SELAMAT DATANG DI BLOG SEDERHANA INI .........SEMOGA BERMANFAAT BAGI KITA SEMUA.......TERIMA KASIH...

Selasa, 28 Desember 2010

POLEMIK NGAYOGYAKARTO HADININGRAT (Tinjauan Historis)

Bangsa Indonesia sedang dilanda kebingungan yang amat sangat, karena banyaknya polemik yang belum terpecahkan sudah muncul kembali polemik yang baru. Masih sangat segar dalam ingatan kita ketika masalah Keistimewaan Ngayogyakarto Hadiningrat dipermasalahkan oleh pemerintah, sehingga menimbulkan reaksi dari berbagai politisi (tentu saja dengan kepentingan kelompoknya masing-masing, mumpung ada kesempatan untuk menghantam pemerintah) dan masyarakat, terutama saudara-saudara kita di Ngayogyakarto Hadiningrat.

Ketika beberapa hari yang lalu saya pergi ke Yogyakarta, saya melihat dengan mata kepala sendiri adanya Posko Referendum di sebelah alun-alun Yogyakarta. Ini pertanda akankah rakyat dan saudara-saudara kita di sana betul betul ingin seperti Timor Timur ? Doa saya mudah-mudahan tidak. Saya yakin saudra-saudara kita di Yogya akan berbesar hati untuk tetap bergabung dengan NKRI, dengan catatan Pemerintah Pusat juga harus arif dan bijaksana menyelesaikan masalah yang mereka munculkan sendiri. Pemerintah yang memulai polemik maka dengan tanggung jawab besar pemerintah juga yang harus menyelesaikan polemik ini, demi satu kata NKRI. Jangan melihat status Yogyakarta dari kepentingan politik saja, tetapi akan lebih bijak kalau pemerintah mau melihat status Yogyakarta dari segi historis. Mengapa Yogyakarta memiliki keistimewaan ? Itulah yang harus dilihat. Itu akan sama kalau melihat mengapa Jakarta menjadi Daerah Khusus, Aceh juga memiliki kekhususan.
Berikut ini sedikit gambaran tentang status Yogyakarta jika ditinjau dari segi historis.
A. BERDIRINYA KASULTANAN MATARAM
Ketika Kasultanan Demak berakhir dengan dipindahkannya ibukota / pusat pemerintahan oleh Raden Mas Karebet ke Pajang, maka berdirilah sebuah Kerajaan Islam di tanah Jawa yang bernama Kasultanan Pajang. Raden Mas Karebet (Putera Ki Ageng Pengging yang juga menantu Sultan Trenggono) menjadi Sultan Pajang bergelar Sultan Hadiwijoyo. Beliau mempunyai 2 orang putera, yaitu :
1. Raden Sutowijoyo , yang bergelar Raden Ngabehi Lor Ing Pasar merupakan putera angkat. Sutowijoyo adalah putera Ki Aageng Pemanahan (saudara seperguruan Raden Mas Karebet)
2. Pangeran Benowo (putera Kandung)
Ketika Raden Sutowijoyo berhasil memenangkan sayembara yang diadakan oleh ayah angkatnya sendiri, yaitu membunuh Aryo Penangsang yang ingin mengambil haknya sebagai pewaris tahta Demak, maka dengan bantuan Ki Ageng pemanahan dan Juru Martani, Sutowijoyo membuka hutan Mentaaok dan mendirikan Padukuhan Mataram.
Padukuhan Mataram inilah yang kemudian berubah menjadi sebuah kerajaan Islam terbesar di Pulau Jawa, yaitu Kasultanan Mataram dan Sutowijoyo menjadi Sultan Mataram bergelar "Panembahan Senopati ing Alogo Sayidin Panatagama Kalifatullah Tanah Jawa"
Berturut-turut Sultan Mataram adalah sebagai berikut :
  1.  Panembahan Senopati Ing Alogo
  2. Panembahan Hanyokrowati (Raden Mas Jolang)
  3. Sultan Agung Hanyokrokusumo (Raden Mas Rangsang)
  4. Sunan Amangku Rat I
  5. Sunan Amangku Rat II
  6. Sunan Amangku Rat III
  7. Susuhunan Paku Buwono I
  8. Susuhunan Paku Buwono II
B. DISINTEGRASI MATARAM (BERDIRINYA KASULTANAN NGAYOGKARTO HADININGRAT DAN KASUNANAN SURAKARTA)
Pada masa pemerintahan Susuhunan Paku Buwono II inilah terjadi perselisihan yang menimbulkan pecahnya peperangan antara Paku Buwono II dengan saudara-saudaranya, yaitu Pangeran mangkubumi dan raden mas Said. Dengan campur tangan Belanda maka pada tahun 1755 diadakan Perjanjian Giyanti yang isinya membagi Kasultanan Mataram menjadi 2, yaitu :
  1. Kasultanan Ngayogyakarto Hadiningrat diserahkan kepada Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I
  2. Kasunanan Surakarta dipegang oleh Paku Buwono II

Bahkan dalam Perjanjian Salatiga tahun 1757, Kasunanan Surakarta dibagi lagi menjadi 2 , yaitu Kasunanan dan Mangkunegaran (Raden Mas Said bergelar KGPAA Mangkunegoro I)
Sedangkan Ksultanan Ngayogyakarto dibegi lagi menjadi 2, yaitu Kaultanana dan Paku Alaman.
Mengapa Demikian ?
Inilah taktik jitu VOC untuk memcah kekuatan Mataram khususnya. Dalam berbagai kasus perlawanan sebelum abad 20 semua perlawanan dapat dihentikan dengan taktik adu domba (devide et impera). Bukan hanya dengan teman seperjuangan, saudara, bahkan antara anak dengan orang tua pun bisa diadu domba oleh VOC. Contoh kasus : Sultan Ageng Tirtayasa yang di adu dengan puteranya sendiri Pangeran Abdul Kahar/Sultan Haji.


C. PEMBAGIAN WILAYAH RI MENJADI 8 PROPINSI (MINUS YOGYAKARTA DAN PAPUA) 
Ketika Indonesia di proklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, mulai tanggal 18 Agustus 1945 PPKI mengadakan sidang untuk menyusun kelengkapan negara


D. SURAT PERNYATAAN SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO IX (5 SEPTEMBER 1945)
tulisan masih belum selesai nda /bersambung..........sabar ya...................

Senin, 11 Oktober 2010

PROKLAMASI DAN TERBENTUKNYA NKRI

I. Berita Kekalahan Jepang Terhadap Sekutu Dan Perbedaan Pendapat Antara Golongan Tua Dan Muda Yang Melahirkan Peristiwa Rengasdengklok,
Suasana ketika Jepang menyerah terhadap Sekutu tanggal 14 Agustus 1945
Sumber : Encarta Ensiklopedia 2006
Setelah mengetahui bahwa Jepang telah menyerah terhadap sekutu, maka golongan pemuda segera menemui Bung Karno dan Bung Hatta di Jln.Pegangsaan Timur 56 Jakarta.Dengan juru bicara Sutan Syahrir, para pemuda meminta agar Bung Karno dan Bung Hatta segera memperoklamasikan kemerdekaan saat itu juga, lepas dari campur tangan Jepang.Bung Karno tidak menyetujui usul para pemuda karena Proklamasi Kemerdekaan itu perlu dibicarakan terlebih dahulu dalam rapat PPKI, sebab badan inilah yang ditugasi untuk mempersiapkan Kemerdekaan Indonesia.
Para pemuda menolak pendapat Bung Karno sebab PPKI itu buatan Jepang, menyatakan kemerdekaan lewat PPKI tentu Akan dicap oleh Sekutu bahwa kemerdekaan itu hanyalah pemberian Jepang,para pemuda tidak ingin kemerdekaan Indonesia dianggap sebagai hadiah dari Jepang.Bung Karno berpendapat lain, bahwa soal kemerdekasan Indonesia datangnya dari pemerintah Jepang atau dari hasil perjuangan bangsa Indonesia sendiri,tidaklah menjadi soal, karena Jepang toh sudah kalah.
Masalah yang lebih penting adalah menghadapi sekutu yang berusaha mengambalikan kekuasaan Belanda di Indonesia. Karena itu memperoklamasikan kemerdekaan Indonesia diperlukan suatu revolusi yang terorganisasi, atas dasar itulah Bung Karno menolak usul para pemuda.








Letak Rengasdengklok (tempat diamankannya Soekarno – Hatta)
Sumber : Atlas Sejarah
Akibat perbedaan pendapat tersebut, maka pada tanggal 16 Agustus 1945 sekitar pukul 04.00 dini hari, Ir. Sukarno dan Drs Moh Hatta dibawa ke Rengasdengklok,sebuah kota kawedanan di pantai utara Kabuoaten Krawang Jawa Barat, dengan tujuan untuk mengamankan kedua tokoh pimpinan tersebut agar tidak mendapat tekanan atau pengaruh dari Jepang, inilah yang dimaksud dengan peristiwa Rengasdengklok.Keberangkatan Sukarno Hatta ke Rengasdengklok dikawal oleh Sukarni, Yusuf Kunto,dan Syodanco Singgih. Rengasdengklok dipilih karena dianggap aman dan daerah tersebut telah dikuasai oleh tentara PETA dibawah pimpinan Codanco Subeno.
Sementara itu di Jakarta terjadi perundingan antara para pemuda dengan Mr. Ahmad Subardjo selaku wakil golongan tua yang menjabat sebagai penasehat dalam tubuh PPKI. Dalam perundingan tersebut dicapai kata sepakat bahwa proklamasi akan dilaksanakan di Jakarta. Pada sore harinya, tanggal 16 Agustus 1945 Mr.Ahmad Subardjo datang ke Rengasdengklok dan mendesak para pemuda agar membawa kembali Sukarno Hatta ke Jakarta. Setelah ada jaminan dari Mr.Ahmad Subardjo bahwa proklamasi kemerdekaan akan dilaksanakan esok hari selambat lambatnya jam 12, maka para pemuda bersedia membawa kembali kedua tokoh tersebut kembali ke Jakarta.
II. Perumusan Teks Proklamasi,
Setelah sampai di Jakarta, malam itu juga Sukarno Hatta mengumpulkan para anggota PPKI dan golongan pemuda. Meraka berkumpul di Jln. Imam Bonjol no.1, dirumah Laksamana Muda maeda, kepala perwakilan angkatan laut Jepang di Jakarta.
Rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda di Jl Imam Bonjol No 1 (Tempat perumusan naskah Proklamasi)
Sumber : 30 Th Indonesia Merdeka
Dalam pertemuan di rumah Maeda, disepakati agar Sukarno Hatta menemui Mayjen Nisyimura yang menjabat sebagai kepala pemerintahan Umum Angkatan Darat Jepang untuk menjajagi sikap resmi Jepang terhadap rencana proklamasi kemerekaan Indonesia. Ternyata Nisyimura tetap memegang teguh tugasnya menjaga status Quo di Indonesia, dengan pengertian bahwa tidak boleh ada perubahan apapun di Indonesia sampai pasukan sekutu datang, dan jepang hanya akan menyerahkan kekuasaan kepada Sekutu. Akhirnya Sukarno Hatta kembali kerumah Maeda dan mengadakan pertemuan dengan hasil keputusan Proklamasi kemerdekaan akan tetap dilaksanakan dengan atau tanpa persetujuan Jepang.
Melalui berbagai pembicaraan dengan pemimpin pemimpin Indonesia, diputuskan dua hal sebagai berikut :
Pertama : diputuskan untuk segera merumuskan teks/naskah proklamasi ,adapun yang merumuskan adalah Sukarno, Hatta dan Ahmad Subardjo,setelah naskah selesai dirumuskan dan disetujui isinya, terjadilah perdebatan tentang siapa yang akan menandatangani naskah proklamasi, yang akhirnya atas usul pemuda Sukarni, teks proklamasi ditandatangani oleh Sukarno Hatta atas nama bangsa Indonesia, naskah kemudian diketik oleh Sayuti Melik dengan beberapa perubahan dari hasil tulisan tangan Sukarno sebagai konsep, yaitu :
1. Kata tempoh diubah menjadi tempo
2. Djakarta 17-8-’05 diubah menjadi Djakarta hari 17 boelan 8 tahoen ‘05
3. Wakil wakil bangsa Indonesia diubah menjadi atas nama bangsa Indonesia.
Naskah yang diketik oleh Sayuti Melik inilah yang dianggap naskah yang otentik.
Perhatikan naskah proklamasi konsep tangan Sukarno dengan hasil ketikan Sayuti Melik dibawah ini.
 Kedua: diputuskan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia akan dibacakan oleh Ir. Sukarno di kediamannya Jln. Pegangsaan Timur no 56 Jakarta.
Naskah Proklamasi yang asli tulisan tangan
Ir Soekarno
Sumber : 30 Th Indonesia Merdeka

Naskah proklamasi yang otentik hasil ketikan Sayuti Melik dan di tanda tangani Soekarno Hatta
Sumber : 30 Th Indonesia Merdeka

























III. Pelaksanaan Proklamasi Dan Penyebarluasannya
Semula sukarni mengusulkan agar teks proklamasi kemerdekaan dibacakan di lapangan Ikada (sekarang Monas), denganmaksud agar seluruh bangsa Indonesia mengetahuinya, akan tetapi Ir.Sukarno tidak sependapat, karena pembacaan ditempat tsb akan mengundang bentrokan antara rakyatdengan pemerintah militer Jepang, dengan alas an tsb, maka disepakati proklamasi akan dilaksanakan di kediaman Ir. Sukarno dan dibacakan oleh Sukarno Hatta.
Soekarno ketika membaca naskah proklamasi didampingi Moh. Hatta di Jl Pegangsaan Timur 56 Jakarta
Sumber : 30 Th Indonesia Merdeka
Tepat hari jumat jam 10.00 WIB, naskah proklamasi dibacakan, ini merupakan peristiwa sangat penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Sesudah naskah proklamasi selesai dibacakan, acara dilanjutkan dengan pengibaran Sang Saka merah putih oleh Pemuda Suhud dan eks sudanco Latif Hendraningrat dengan disaksikan segenap yang hadir, upacara diakhiri dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya.Dalam suasana yang sangat sederhana itu telah sampailah bangsa Indonesia ke ambang pintu kemerdekaannya. Satu persatu hadirin meninggalkan tempat dengan tenang dan dengan tekat bulat untuk mempertahankan kemerdekaan.
Meskipun hanya berlangsung singkat, namun peristiwa proklamasi kemerdekaan mengandung arti yang sangat penting dan membawa perubahan yang sangat besar dalam kehidupan bangsa Indonesia, yaitu :
1. Proklamasi merupakan puncak perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaannya
2. Dengan proklamasi berarti bangsa Indonesia mendapat kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri sebagai bangsa yang berdaulat.
3. Proklamasi merupakan jembatan emass untuk menuju masyarakat yang adil dan makmur.
Tekas proklamasi yang telah dirumuskan tanggal 16 Agustus 1945 dan dibacakan tanggal 17 Agustus 1945 beberapa saat kemudian berhasil diselundupkan ke kantor pusat pemberitaan pemerintah jepang yang bernama Domei (sekarang kantor berita antara). Para pejuang di kantor berita Domei antara lain Adam Malik,Rinto Alwi, Asa Bafaqih dan. P.Lubis. Pada tanggal 17 Agustus 1945, sekitar pukul 18.30 WIB, wartawan kantor berita Domei yang bernama Syarifudin berhasil masuk ke gedung siaran radio Hoso Kanzi Kyoku (sekarang RRI), uantuk menyampaikan teks proklamsi dan pada pukul 19.00 berhasil disiarkan.
Pengibaran Bendera Merah Putih (Dijahit oleh Fatamawati)
Sumber : 30 Th Indonesia Merdeka
Berita Proklamasi kemerdekaan Indonesia juga disebarluaskan melalui media surat kabar atau pers. “Harian Suara Asia” di Surabaya adalah Koran pertama yang menyiarkan proklamasi. Kemudian disusul oleh “Harian Cahaya Bandung”yang memuat pembukaan UUD. Para pemuda yang berjuang lewat pers antara lain BM DiAH, Sukarjo Wiryopranoto, Iwa KusumaSumantri, Ki Hajar Dewantoro, Otto Iskandar Dinata, GSSJ Ratulangi, Adam Malik, Sayuti Melik, Madikin Wonohito, Sumanang SH, Manai Sopiaan, Ali Hasyim dan lain lainnya.
Usaha usaha lain untuk menyebarkan berita proklamasi adalah melalui penyebaran dan pemasangan pamflet, plakat, poster, coretan coretan pada tembok dan kereta api. Dengan demikian dalam waktu yang tidak lama berita proklamasi kemerdekaan Indonesia segera tersebar ke seluruh Indonesia dan ke dunia luar.
IV. Terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia,
Setelah pelaksanaan proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, maka para pejuang bangsa Indonesia mulai menata kehidupan berbangsa dan bernegara dengan menyusun alat kelengkapan Negara. Usaha menyusun alat kelengkapan Negara antara lain dilakukan melalui :
a. Sidang PPKI yang I, tanggal 18 Agustus 1945, keesokan harinya setelah proklamasi dengan keputusan :
    1. Mengesahkan UUD 1945
    2. Memilih presiden dan wakil presiden
    3. Untuk sementara waktu tugas presiden akan dibantu oleh Komite Nasional
b. Sidang PPKI yang kedua, tanggal 19 Agustus 1945 ,dengan keputusan :
     1. menetapkan 12 kementrian
     2. membagi wilayah RI menjadi 8 propinsi yang dikepalai oleh Gubernur
c. Sidang PPKI yang ketiga, tanggal 22 Agustus 1945, dengan keputusan :
    1. membentuk Komite Nasional Indonesia yang akan berfungsi sebagai Dewan Perwakilan Rakyat yang  berkedudukan di Jakarta, dengan ketuanya Mr. Kasman Singodimejo.
    2. Membentuk Partai Nasional Indonesia, yang ditetapkan sebagai satu satunya partai di Indonesia, namun hal ini menimbulkan reaksi keras dari berbagai kalangan yang menghendaki agar masyarakat diberi kebebasan untuk mendirikan partai politik, hal ini mendorong keluarnya maklumat pemerintah tanggal 3 Nopember 1945 no X yang berisi tentang pembentukan partai partai politik.
3. Membentuk Badan Keamanan Rakyat, yang beranggotakan para pemuda bekas HEIHO, PETA dan KNIL, dan anggota anggota badan semi militer lainnya.
Pada tanggal 5 oktober 1945 pemerintah membentuk Tentara keamanan Rakyat (TKR), sebagai panglimanya diangkat Supriyadi, namun karena tidak pernah muncul, maka posisinya digantikan oleh Sudirman, sedangkan sebagai kepala staf umum diangkatlah Oerip Sumoharjo. Nama TKR kemudian diubah menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI), sesuai dengan maklumat pemerintah 26 Januari 1946, dan pada tanggal 7 Juni 1947 nama TRI diubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).
V. Dukungan Spontan Terhadap Proklamasi dan Tindakan Tindakan Heroik
1. Pernyataan Sri Sultan Hamengku Buwono IX
Pada tanggal 5 September 1945, di Yogyakarta Sri Sultan HB IX Sultan Yogyakarta menyatakan dukungan terhadap Proklamasi kemerdekaan Indonesia. Adapun isi dari pernyataannya adalah :
1. Bahwa negeri Ngayogyakarta Hadiningrat yang bersifat kerajaan adalah daerah Istimewa dari Negara RI
2. Bahwa Sultan Ngayogyakarta sebagai kepala daerah memegang kekuasaan dalam negeri Ngayogyakarta Hadiningrat, oleh karena itu segala urusan pemerintahan dalam negeri Yogyakarta ditangan Sultan
3. Bahwa perhubungan antara negeri Ngayogyakarta Hadiningrat dengan pemerintah pusat RI bersifat langsung , dan sultan bertanggung Jawab atas negeri Yogyakarta langsung kepada Presiden RI.
2. Rapat Raksasa di Lapangan Ikada,
Pada tanggal 19 September 1945 di lapangan Ikada diselenggarakan rapat untuk menyambut proklamasi kemerdekaan. Tapi karena penjagaan tentara Jepang sangat ketat, maka rapat hanya berlangsung singkat.Presiden Sukarno berpidato dengan singkat dan berpesan supaya rakyat kembali dengan tenang dan mempercayakan pada pemimpin. Rapat Raksasa di lapangan ikada menunjukkan tekad bangsa Indonesia untuk merdeka. Arti penting rapat raksasa di Lapangan Ikada adalah “menjadi bukti pertama kewibawaan pemerintah RI terhadap rakyatnya
Dalam rapat Ikada 19 September 1945 Presiden soekarno hanya berpidato selama 5 menit
Sumber : 30 Th Indonesia Merdeka
3. Tindakan Tindakan Heroik
Tindakan heroik diambil oleh bangsa Indonesia sesuai dengan perintah proklamasi, secara spontan rakyat Indonesia mengadakan tindakan mengambil alih kekuasaan dari tangan Jepang, baik secara damai maupun kontak senjata.. Dengan tekad bulat bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan.Tujuan Bangsa Indonesia melucuti tentara Jepang adalah sebagai Berikut
1. untuk mendapatkan senjata sebagai modal perjuangan selanjutnya:
2. untuk mencegah agar senjata Jepang tidak jatuh ketangan Sekutu
3. untuk mencegah agar senjata Jepang tidak digunakan Jepang untuk membunuh rakyat
Beberapa tindakan heroik itu antara lain adalah :
a. Perebutan pangkalan udara bugis (sekarang abdul Rahman Saleh di Malang) pada tanggal 18 september 1945
b. Penurunan Bendera Belanda dari puncak hotel Yamato di Surabaya,tanggal 19 September 1945.
c.Rapat Raksasa di lapangan Ikada
d. Peristiwa Merah Putih di Menado

Perobekan bendera Belanda Merah Putih Biru di atas Hotel Yamato Surabaya tanggal 19 September 1945
Sumber : 30 Th Indonesia Merdeka
d. Pengumuman Proklamasi Kemerdekaan di lapangan Fukureido (sekarang lapangan merdeka) tanggal 6 oktober 1945
e. Pertempuran lima hari di Semarang (14-19 oktober 1945)
f. Pertempuran Krueng Panjo Aceh tanggal 24 November 1945
g. Pertempuran Bogor, tanggal 8 Desember 1945
h. Pertempuran Cibadak, tanggal 9 Desember 1945
i. Perlawanan rakyat Irian tanggal 14 Maret 1948.

PROSES KEMERDEKAAN BANGSA INDONESIA

I Janji Perdana Menteri Koiso

Sejak tahun 1944 posisi Jepang dalam perang Asia Timur Raya terus terdesak, bahkan berbagai pulau di sekitar Irian telah jatuh ke tangan Sekutu. Sekutu terus menyerbu lewat serangan udaramya di kota kota di wilayah Indonesia seperti Ambon, Makasar, Menado dan Surabaya. Akhirbya tentara Sekutu berhasil mendarat di Balikpapan sebagai kota minyak. Pertahanan Jepang sudah rapuh dan bayangan kekalahan sudah semakin nyata. Dalam kondisi demikian, Jepang masih berusaha menarik simpati bangsa Indonesia, yaitu dengan menjanjikan kemerdekaan di kemudian hari.

Pada tangga l7 September 1944 di dalam sidang istimewa Parlemen Jepang di Tokyo, Perdana Menteri Koiso mengumumkan bahwa daerah Hindia Timur (Indonesia)diperkenankan merdeka di kelak kemudian hari. Menghadapi situasi yang gawat tersebut, pemerintah pendudukan Jepang di Jawa dibawah pimpinan Letnan Jendral Kumakici Harada berusaha meyakinkan bangsa Indonesia tentang janji kemerdekaan. Pada tanggal 1 Maret 1945 diumumkan pembentukan Badan Penyelidik Usaha Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau dalam bahasa Jepang disebut dengan Dokuritsu Junbi Cosakai.Maksud dan tujuan dibentuknya BPUPKI adalah untuk mempelajari dan menyelidiki hal hal penting berkaitan dengan segala sesuatu yang menyangkut pembentukan Negara Indonesia Merdeka.

Yang diangkat sebagai ketua BPUPKI adalah dr.K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat, dengan dibantu oleh dua orang ketua muda, yaitu seorang Jepang yang menjabat sebagai Syucokan Cirebon bernama Icibangase dan R.P Suroso sebagai kepala secretariat dengan dibantu oleh Toyohito Masuda dan Mr. A.G.Pringgodigdo. Anggota BPUPKI 60 orang ditambah 7 orang Jepang tanpa hak suara. Dalam hal ini Ir.Sukarno tidak menjadi ketua, karena ia ingin lebih aktif dalam berbagai diskusi. Pelantikan anggota BPUPKI dilakukan pada tanggal 28 Mei 1945, bertepatan dengan hari ulang tahun raja Jepang (Teno Heika). Pelantikan anggota BPUPKI dihadiri oleh seluruh anggota dan dua orang pembesar Jepang, yaitu Jendral Itagaki dan Jendral Yaiciro Nagano. Pada saat peresmian ini bendera merah putih dikibarkan disamping bendera Jepang Hinomaru.

II. Penyusunan Dasar Negara Dan Rancangan Undang Undang Dasar.

Setelah anggota BPUPKI dilantik, dimulailah bersidang. Dalam hal ini tugas BPUPKI adalah menyusun Dasar dan Konstitusi untuk Negara Indonesia yang akan didirikan. BPUPKI bersidang dalam dua tahap, yaitu sidang pertama atnggal 29 Mei-1 Juni 1945,yang bertempat di gedung Chou Sangi In, Jalan Pejambon 6 Jakarta, sedangkan sidang kedua tanggal 10 – 17 Juli 1945.

Dalam sidangnya yang pertama dibahas masalah asas dan dasar Negara Indonesia Merdeka. Dalam persidangan itu ditekankan bahwa sesuatu yang akan menjadi dasar Negara hendaknya dicari dan digali dari nilai nilai yang sudah berakar kuat dihati dan pikiran rakyat , serta sudah tumbuh subur pada seluruh rakyat Indonesia, sehingga dasar Negara itu dapat diterima secara bulat dan didukung oleh seluruh lapisan masyarakat. Beberapa tokoh yang berpidato untuk mengusulkan konsep tentang dasar Negara Indonesia adalah Mr.Muh.Yamin, Prof. Supomo dan Ir. Sukarno.

Suasana Sidang BPUPKI Tanggal 29 Mei sampai dengan 1 Juni 1945

Sumber : 30 Th Indonesia Merdeka

Pada sidang hari pertama, yaitu tanggal 29 Mei 1945, Mr.Moh. Yamin dalam pidatonya mengemukakan lima asas sebagai dasar Negara Indonesia, yaitu :

1. Perikebangsaan

2. Perikemanusiaan

3. Periketuhanan

4. Perikerakyatan

5. Kesejahteraan Rakyat

Pada tanggal 31 Mei pada sidang berikutnya Prof. Supomo dalam pidatonya mengemukakan dasar Negara sebagai berikut :

1. Paham Negara kesatuan

2. Warga Negara hendaknya tunduk pada Tuhan dan supaya setiap saat ingat kepada Tuhan

3. Sistem badan musyawarah

4. Ekonomi Negara bersifat kekeluargaan

5. Hubungan antar bangsa bersifat Asia Timur Raya

Adapun pada persidangan terakhir, yaitu pada tanggal 1 Juni 1945, Ir. Sukarno mengusulkan dasar falsafah Negara Indonesia merdeka terdiri dari lima asas dan diberi nama Pancasila yang bunyinya :

1. Kebangsaan Indonesia

2. Internasionalisme atau Perikemanusiaan

3. Mufakat atau Demokrasi

4. Kesejahteraan Sosial

5. Ketuhanan Yang Maha Esa

Sambil menunggu masa sidang berikutnya, maka 9 anggota BPUPKI membentuk panitia kecil, kesembilan orang tersebut adalah Ir. Sukarno. Drs. Moh. Hatta, Mr. AA Maramis, Abikusno Tjokrosujoso, Abdulkahar Muzakir, Haji Agus Salim. Mr. Ahmad Subarjo. KH A. Wachid Hasyim dan Mr. Moh. Yamin, dengan diketuai oleh Ir. Sukarno. Panitia kecil atau yang juga disebut dengan panitia sembilan tersebut terus bekerja keras merumuskan rancangan Pembukaan Undang Undang Dasar, yang didalamnya nanti harus mengandung Asas dan Tujuan Negara Indonesia merdeka. Akhirnya tugas tersebut terselesaikan pada tanggal 22 Juni 1945 dan hasil rumusannya disebut dengan “Piagam Jakarta” atau “Jakarta Charter” sesuai dengan nama yang diberikan oleh Moh. Yamin.

Di dalam Piagam Jakarta itu juga dirumuskan lima asas yang akan diusulkan menjadi dasar falsafah Negara Indonesia Merdeka, yaitu :

1. Ketuhanan dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk pemeluknya

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab

3. Persatuan Indonesia

4. Kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwaKilan

5. Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Piagam Jakarta dengan beberapa perubahan terutama mengenai rumusan Pancasila itu kemudian menjadi Pembukaan UUD 1945.

Dalam siding BPUPKI yang kedua membahas rencana Undang Undang Dasar beserta pembukaannya. Mula mula dibentuk “Panitia Perancang Undang undang Dasar” yang diketuai oleh Ir.Sukarno. Panitia ini menyetujui isi pembukaan Undang Undang Dasar diambilkan dari Piagam Jakarta dengan beberapa perubahan. Sedangkan untuk merumuskan undang undang dasar, panitia perancang undang undang dasar membentuk “Panitia Kecil Perancang Undang Undang Dasar(Panitia Hukum Dasar)” yang terdiri atas tujuh orang anggota, yaitu Prof. Supomo, Mr.Wongsonegoro,Mr.Ahmad Subarjo,Mr.AA Maramis,Mr.RP Singgih, Haji Agus Sali dan Dr. Sukiman.

Hasil perumusan UUD dari panitia hukum dasar kemudian disempurnakan dan diperhalus bahasanya oleh panitia yang terdiri atas Prof. Supomo, Haji Agus Salim dan Prof. Husein Djoyodiningrat.

Dalam akhir persidangan Ir. Sukarno melaporkan hasil kerja panitia perancang UUD kepada sidag yang berisi :

a. Pernyataan Indonesia merdeka

b. Pembukaan Undang Undang Dasar

c. Undang Undang Dasar (Batang Tubuh)

Akhirnya sidang BPUPKImenerima bulat hasil kerja panitia tersebut. Setelah rancangan Undang Undang Dasar berhasil disusun, maka selesailah tugas BPUPKI dan pada tanggal 7 Agustus 1945 BPUPKI dibubarkan.

III. Pembentukan PPKI dan Peranannya,

Setelah BPUPKI dibubarkan, maka untuk menangani tugas selanjutnya dibentuklah PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang dalam bahsa Jepang disebut Dokuritsu Junbi Iinkai pada tanggal 7 Agustus 1945,dengan tugas melanjutkan pekerjaan BPUPKI dan mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pelaksanaan kemerdekaan atau pemindahan kekuasaan dari Jepang kepada Indonesia, yang diketuai oleh Ir. Sukarno dengan wakilnya Drs. Moh. Hatta dan sebagai penasehatnya adalah Mr.Ahmad Subardjo. Mereka yang diangkat sebagai anggota PPKI terdiri atas tokoh tokoh nasionalis diberbagai daerah.

Pembentukan PPKI ini langsung ditangani oleh Marsekal Terauci,yang menjabat sebagai Panglima Tertinggi bala tentara Jepang di Asia Tenggara yang berkedudukan di Dalath,Vietnam. Pada tanggal 9 Agustus 1945 ,dalam rangka peresmian PPKI,Ir Sukarno, Drs. Moh Hatta dan Dr.Radjiman Wedyodiningrat dipanggil menghadap Terauci ke Dalath,Vietnam. Dalam pertemuan tanggal 12 Augtus1945, kepada para pemimpin bangsa kita Marsekal Terauci menyampaikan hal hal sebagai berikut :

1. Pemerintah Jepang memutuskan untuk memberi kemerdekaan kepada Indonesia

2. Untuk pelaksanaan kemerdekaan telah dibentuk PPKI

3. Pelaksdanaan kemerdekaan segera setelah persiapan selesai dan berangsur angsur di mulai dari pulau Jawa kemudian pulau pulau lainnya

4. Wilayah Indonesia akan meliputi seluruh bekas wilayah Hindia Belanda

Pada tanggal 15 Agustus 1945 tersiar berita kekalahan Jepang terhadap sekutu yang diketahui para pemuda pejuang bangsa Indonesia dari siaran radio dengan pemancar gelap, seperti Sukarni, Adam Malik, Chaerul Saleh, BM Diah dan pemuda pemuda lainnya dari Menteng 31.Tersiarnya berita kekalahan Jepang terhadap sekutu menimbulkan terjadinya situasi Vacum of Power (kekosongan kekuasaan) di Indonesia,hal ini membuat mereka para pemudabertekad untuk merebut kemerdekaan pada saat sekutu belum tiba di Indonesia untuk melucuti tentara Jepang.

Sementara itu para pemimpin dari golongan tua yang baru pulang dari luar negeri merasa ragu akan berita itu. Ketika mereka didesak para pemuda untuk memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 15 Agustus 1945 itu, Sukarno Hatta meminta waktu untuk bermusyawarah dengan para anggota PPKI. Apabila janji Jepang itu ditepati, adalah lebih baik karena akan mengurangi korban jiwa, namun juga muncul keraguan bagaimana bila Jepang ingkar janji ? oleh karena itulah maka golongan tua ingin bermusyawarah lebih dahulu dengan anggota PPKI, kelambanan seperti ini tidak disukai para pemuda.

Karena belum berhasil membujuk Bung Karno untuk memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 15 agustus 1945, maka pada malam hari para pemuda mengadakan rapat sendiri di Lembaga Bakteriologi Jln. Pegangsaaan Timur yang dipimpin oleh Chairul Saleh, dengan keputusan yang menunjukkan tuntutan tuntutan yang radikal dari golongan pemuda, antara lain menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hak dan persoalan rakyat Indonesia sendiri, tidak dapat digantungkan kepada bangsa lain. Segala ikatan dan hubungan dengan janji kemerdekaan dari Jepang harus diputuskan, sebaliknya, diharapkan adanya perundingan dengan Ir.Sukarno dan Drs. Moh Hatta agar mereka dapat turut menyatakan proklamasi.

Darwis dan Wikana adalah tokoh pemuda yang menyampaikan hasil rapat dari lembaga Bakteriologi kepada Ir. Sukarno. Para pemuda menghendaki agar proklamasi kemerdekaan Indonesia dinyatakan oleh Bung Karno pada keesokan harinya tanggal 16 Agustus 1945. Namun Bung Karno tetap bersikeras membicarakan terlebih dahulu dengan PPKI, bahkan beliau sempat marah, sehingga terjadi ketegangan antara golongan pemuda yang diwakili Darwis-Wikana dengan Ir.Sukarno yang juga disaksikan oleh tokoh nasionalis dari golongan tua lainnya. Inti dari ketegangan tersebut adalah adanya perbedaan pendapat antara golongan tua dengan golongan muda tentang pelaksanaan proklamasi kemerdekaan.Peristiwa inilah yang nanti memicu para pemuda melakukan penculikan terhadap Ir. Sukarno dan Drs. Moh. Hatta, yang dikenal dengan peristiwa Rengasdengklok.

Jumat, 08 Oktober 2010

SISA SISA KEBESARAN KADIRI KUNO

Daerah Kediri atau Kadiri merupakan daerah yang sangat subur karena sebuah sungai besar mengairi daerah ini. Alasan inilah yang menjadikan Kadiri dipilih oleh sejumlah kerajaan masa klasik Jawa Timur sebagai satu daerah penting.Kedudukannya sebagai suatu daerah penting terbukti dengan banyaknya data arkeologi yang berasal dari daerah ini, yang merupakan cerminan eksistensi Kadiri pada masa kerajaan klasik Jawa Timur.

Kerajaan Kadiri merupakan salah satu dari beberapa Kerajaan besar di Indonesia pada masa Hindu Budha. Bahkan jaman Kerajaan Kediri disebut-sebut sebagai jaman Keemasan Kesusasteraan Indonesia. Pada Masa ini banyak sekali dihasilkan karya sastra besar, seperti misalnya : Asmaradhahana, Baratayudha, Gatotkaca sraya, Arjuna Wijaya, Lubdaka, वेर्तासंकाया, क्रेस्नायाना, bahkan sebuah kitab yang diyakini oleh mayoritas masyarakat Indonesia akan kebenarannya “Jongko Joyoboyo”. Kita juga mengenal adanya kitab cerita Panji. Sebuah kisah tentang Raden Panji yang sangat terkenal ini dibahas oleh seaorang arkeolog Jerman “ Lydia Kiefen”. Sebuah kisah asmara antara Panji Asmorobangun (putera raja Jenggala) dengan Dewi sekartaji atau Galuh Candra Kirana (puteri raja Panjalu). Pernikahan dua sejoli inilah yang akhirnya menyatukan Kerajaan Jenggala dan Panjalu, yang semula saling bermusuhan sejak pertikaian antara Mapanji Garasakan dengan Sri Samarawijaya.

Nama Airlangga tidak terlepas dari pendirian Kerajaan Kadiri (Panjalu). Pembagian kerajan Kahuripan menjadi Janggala dan Panjalu merupakan langkah Airlangga untuk menyelesaikan kemelut di Kerajaan Kahuripan. Berdasarkan prasasti Wurare berangka tahun 1211 Saka (1289 M) pada bagian awal disebutkan pendeta utama bernama Aryya Bharad telah membagi tanah Jawa menjadi dua dengan air suci dari kendi yang mempunyai kemampuan untuk membelah tanah karena dua orang raja yang telah siap berperang. Dengan pembagian ini muncullah kerajaan Janggala dan Panjalu, keberadaan dua kerajaan ini merupakan awal eksistensi Kadiri menjadi sebuah kerajaan besar di belakang hari.

Pada awal berdirinya, kerajaan Kadiri (Panjalu) jauh tertinggal pamornya dibanding kerajaan Janggala, namun setelah melalui masa kegelapan dengan tidak ditemukannya berita mengenai keberadaan kedua kerajaan itu, baru kira-kira 60 tahun kemudian , kerajaan Kadirilah yang muncul memimpin. Berita tentang kerajaan Kadiri (Panjalu) termuat dalam prasasti Padlegan dikeluarkan oleh Raja Bameswara berangka tahun 1038 Saka (1117 M) yang beisikan anugrah raja kepada penduduk desa Padelegan berupa anugrah sima swatantra. Pada prasasti ini disebutkan untuk menghadap raja, rakyat Padlegan menjadikan Sang Juru Pangjalu Mapanji Tusing Rat sebagai perantara.

Sisa sisa kebesaran Kediri bisa kita jumpai sekarang ini baik di wilayah Kabupaten Kediri maupun Kota Kediri.

1. Prasasti Harinjing

Prasasti yang dikeluarkan oleh Sri Maharaja Rakai Layang Dyah Tulodhong ini berisi tentang penganugerahan Tanah Perdikan Sima kepada Bagawanta Bhari. Berdasarkan prasasti inilah Hari jadi Kabupaten Kediri ditetapkan, yaitu setiap tanggal 23 Maret. Prasasti ini terletak di desa Sarinjing (sekarang) wilayah Kecamatan Kepung Kab. Kediri.

2. Goa Selo Mangleng

Goa ini terletak di dilayah Kota Kediri tepatnya di Desa Pojok Kecamatan Mojoroto, di lereng anak Gunung Wilis, yaitu Gunung Klothok. Goa ini merupakan peninggalan Sri Sanggramawijaya, puteri sulung Airlangga yang tidak bersedia dinobatkan sebagai penguasa Kahuripan. Beliau memilih menjadi seorang Bikuni bergelar Dewi Kili Suci, dan mendirikan pertapaan di lereng Gunung Wilis (yang sekarang kita kenal dengan Gua selo Mangleng). Goa ini mempunyai dua buah pintu di bagian depan dengan hiasan Kala Makara di bagian atas pintu masuk. Karena ketidak sediaan Sri Sanggramawijaya untuk meneruskan tahta ayahandanya inilah yang kemudian menyebabkan terjadinya rebutan kekuasaan antara kedua adiknya, yaitu Mapanji Garasakan dengan Samarawijaya. Perang saudara ini memaksa Airlangga yang sudah menjadi pertapa untuk kembali ke kerajaan. Dibantu Mpu Baradha, Airlangga membagi Kahuripan menjadi Jenggala dan Panjalu yang diperkirakan terjadi sekitar tanggal 24 Nopember 1042 (Prof. Slamet Muljana; Negarakertagama dan Tafsir Sejarahnya)

Kini kawasan situs goa Selomangleng ini dilengkapi dengan obyek wisata dan di dekatnya dibangun sebuah Museum yang diberi nama Musem "Airlangga"


3. Arca Totok Kerot

Sebuah patung Dwarapala (Penjaga Pintu Gerbang) yang berada di wilayah Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri ini oleh masyarakat Kediri diberi nama Totok Kerot karena adanya anggapan bahwa arca ini adalah perwujudan raksasa perempuan.

Dengan adanya Arca Dwarapala ini mungkinkan Kerajaan Kediri pada masa itu berpusat disekitar daerah ini ??? Mengingat dari bentuknya yang sangat besar , sangat dimungkinkan arca Totok Kerot ini adalah arca Penjaga Pintu Gerbang Kerajaan. Disekitar wilayah ini banyak ditemukan situs peninggalan kerajaan Kediri juga nama-nama daerah yang pernah disebutkan dalam prasasti kerajaan Kadiri, seperti; desa Katang, Lumbang, adan-adan, desa Girah (Gurah?). Arca ini seharus berjumlah dua buah atau satu pasang.

4. Situs Tondho Wongso

Komplek percandian dari batu bata merah (terakota) ini merupakan penemuan baru (2007) di wilayah Kabupaten Kediri, tepatnya di desa Tondo Wongso Kecamatan Gurah. Situs ini sekarang terletak di tengah perkebunan tebu. Di situs ini banyak dijumpai arca yang terbuat dari batu berwarna putih, yang sekarang disimpan di Museum Trowulan Mojokerto. Arca-arca tersebut sangat halus buatannya. Berikut ini penulis akan menampilkan beberapa gambar situs dan arca peninggalan yang ada di Tondo Wongso yang diambil dengan kamera dari Museum Trowulan Mojokerto.

Tampak pada gambar di atas, beberapa bagian sudut candi pada situs Tondo Wongso dan arca-arca yang terbuat dari batu berwarna putih sangat halus pahatannya.
5. Situs Babadan/Sumbercangkring

Situs ini juga baru seperti Tondo Wongso dan terbuat dari terakota. Situs ini juga terletak di dusun Babadan Desa Sumbercangkring Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Di situs ini banyak kita jumpai beberapa arca yang belum selesai pengerjaannya. Dimungkinkan pekerjaan tidak diselesaikan karena adanya bencana letusan Gunung Kelud. Ini sangat besar kemungkinannya, karena pada saat ditemukan, baik situs Babadan dan tondo Wongso berada dibawah timbunan material/tanah vulkanis Gunung Kelud pada ekedalaman sekitar 2 meter dari permukaan tanag sekarang

Berikut ini beberapa bagian situs Babadan Sumbercangkring yang diambil dengan kamera penulis :

Tampak pada gambar dari situs Babadan Sumbercangkring sebuah Kala Makara, dan lantai dasar candi yang terbuat dari bata merah.






Rabu, 29 September 2010

GARUDA, LAMBANG NEGARA RI

Binatang Apakah "GARUDA" itu.....????
Garuda merupakan gambaran seekor burung yang tidak nyata. Kita dapat melihat bentuk Garudamukha pada relief-relief candi di Indonesia, seperti Candi Prambanan (Jawa Tengah), Candi Penataran (Blitar), Candi Tigawangi seperti gambar disamping (Kediri) , Dinding bangunan makam Setono Gedong/Mbah Wasil (Kediri). Gambaran bentuk burung Garuda terdapat dalam kitab ajaran Hindu. Dalam ajaran agama Hindu kita mengenal adanya Tri Murti, yaitu ;
1. Syiwa (Dewa penguasa dan perusak alam semesta) yang mempunyai laksana seekor Lembu Nandi
2. Brahma (Dewa Pencipta alam) yang mempunyai laksana seekor angsa
3. Wisnu (Dewa Pelindung Dunia) yang mempunyai laksana seekor burung bernama Garudamukha, yaitu seekor burung yang berwajah setengah raksasa.
Gambaran jelas bentuk dari garudamukha dapat kita lihat di Museum Trowulan Mojokerto. Di museum ini terdapat arca perwujudan Airlangga sebagai dewa Wisnu yang sedang menunggang Garuda. Arca yang sangat bersejarah ini sekarang dalam kondisi yang cukup baik setelah diadakan perawatan dengan menggunakan klem dari baja, mengingat kondisinya yang sudah retak-retak bahkan patah di bagian-bagian tertentu.
Keterangan Gambar : Patung perwujudan airlangga sebagai Dewa Wisnu yang sedang mengendarai Garuda (sekarang disimpan di museum Trowulan Mojokerto)
Sumber Gambar : Dokumen Pribadi

Bentuk burung ini tidak akan kita jumpai di kehidupan nyata, karena hanya ada di dalam ajaran agama Hindu. Didalam Kitab Ramayana karya Mpu Walmiki kita mengenal adanya “Burung Jathayu” yang bentuknya sama dengan Garuda. Dalam kitab tersebut Jathayu digambarkan bertarung melawan Rahwana karena ingin menyelamatkan dewi Shinta yang diculik oleh Rahwana. Gambaran sifat Jathayu ini sama dengan Garudha yang mempunyai sifat sebagai pelindung
Dalam kehidupan nyata kita dapat mempersonifikasikan burung Garuda ini dengan burung Rajawali, seekor burung yang dijuluki Raja Udara karena keperkasaannya. Gambaran bentuk kepala burung rajawali inilah yang digunakan oleh Sultan Hamid II dari Pontianak untuk menggambarkan bentuk burung Garuda, atas tugas dari presiden Soekarno. Bahkan kita banyak yang kurang tahu bahwa nama lengkap dari lambang negara kita adalah “RAJAWALI GARUDA PANCASILA”, karena kita lebih familier dengan nama Garuda Pancasila

Mengapa Burung Garuda, bukan Burung Rajawali ....?
Untuk membahas masalah ini saya teringat akan pesan Presiden Soekarno

dalam pidatonya yang sangat terkenal “JAS MERAH”.
JAngan Sekali-kali MElupakan sejaRAH...!!!! Bangsa yang melupakan sejarah bangsanya sendiri niscaya akan hancur. Sejarah adalah masa lampau. Masa lampau adalah pengalaman dan Pengalaman adalah Guru yang terbaik....... Dengan kata lain "sejarah adalah masa lampau yang dapat digunakan sebagai pengalaman atau cermin untuk melangkah ke masa depan......"
Kembali ke Garudha. Pada masa berkembangnya kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia di Negara kita muncul beberapa Kerajaan Hindu yang besar dan sangat disegani oleh kerajaan-kerajaan lain. Bahkan ada kerajaan Hindu yang kekuasaan sangat luas sampai ke Asia Tenggara, yaitu Majapahit. Banyak dari kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia waktu itu menggambarkan sosok penguasanya ( rajanya ) sebagai Dewa Wisnu, dewa pelindung dunia yang mempunyai laksana seekor Garudhamukha. Karena selalu bersama dengan wisnu Garudha juga mempunyai sifat sebagai pelindung yang dipercaya akan melindungi rakyat dari segala marabahaya.
Nampaknya sejarah panjang kebesaran kerajaan-kerajaan Hindu inilah yang mengilhami pemikiran pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno untuk menggambarkan sosok “Garuda” ini menjadi lambang negara RI. Bahkan pada sosok Rajawali garuda Pancasila ini ditambahkan sebuah pita dengan tulisan “Bhineka Tunggal Ika”. Sebuah semboyan yang sudah sangat akrab di telinga masyarakat Majapahit pada abad ke 15, "Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa" Semboyan ini terdapat dalam sebuah Kitab yang ditulis oleh Mpu Tantular, yaitu Sutasoma. Sebuah buku yang menggambarkan bagaimana rukunnya masyarakat Majapahit pada waktu itu walaupun mempunyai berbagai macam agama atau keyakinan. Keadaan ini persis sama dengan keadaan bangsa Indonesia yang merupakan bangsa paling majemuk di seluruh dunia, mulai dari Suku, Agama, Adat maupun Ras.
Bahkan lambang Garudhamuka ini juga dapat kita jumpai pada bangunan peninggalan budya Islam, yaitu sebuah masjid dan makam auliya Sunan Wasil/Mbah Wasil di Kelurahan Setono Gedong Kecamatan Kota, Kota Kediri. Pada bangunan makam ini terdapat relief Garudhamukha yang mengembangkan sayap dengan kepala menoleh ke kanan. Ini menggambarkan bahwa akulturasi budaya bangsa Indonesia begitu kuat (akulturasi budaya Hidu dan Islam). Saling menghargai dan menghormati kebudayaan dan keyakinan masyarakat sangat tinggi, sesuai dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika.
Kesimpulan saya bahwa pemakaian lambang Garuda dengan sayap mengembang dilengkapi Pita bertulis Bhineka Tunggal Ika bermakna bahwa pada saat itu para pemimpin kita dibawah Pemerintahan Soekarno mengidamkan bangsa Indonesia yang sangat majemuk ini menjadi bangsa yang damai, aman dan tenteram yang diibaratkan dibawah kepemimpinan penguasa yang mempunyai sifat seperti dewa Wisnu, yaitu melindungi rakyat dari segala marabahaya dan menjamin kesejahteraan rakyat.

Sabtu, 25 September 2010

PERJUANGAN BANGSA INDONESIA MEREBUT IRIAN BARAT/PAPUA

1. Latar belakang pengembalian Irian Barat

Apakah Irian Barat termasuk wilayah Indonesia ?

Jawabannya adalah ya!

Karena apabila ditinjau dari segi politis, bahwa berdasarkan perjanjian international 1896 yang diperjuangkan oleh Prof. Van Vollen Houven (pakar hukum adat Indonesia) di sepakati bahwa ”Indonesia” adalah bekas Hindia Belanda. Sedangkan Irian Barat walaupun dikatakan oleh Belanda secara kesukuan berbeda dengan bangsa Indonesia, tetapi secara sah merupakan wilayah Hindia Belanda.

Apabila ditinjau dari segi antropologi, bahwa bangsa Indonesia yang asli adalah Homo Wajakensis dan Homo Soloensis yang mempunyai ciri-ciri: kulit hitam, rambut keriting (ras austromelanesoid) yang merupakan ciri ciri suku bangsa Aborigin (Australia) dan ras negroid (Papua).

Apabila ditinjau dari segi sejarah , bahwa Konferensi Meja Bundar yang dilakukan untuk mengatur penyerahan kedaulatan Indonesia diwarnai dengan usaha licik Belanda yang ingin terus mempertahankan Irian Barat (New Guinea) dengan alasan kesukuan. Akhirnya KMB memutuskan penyelesaian Irian Barat akan ditentukan dalam masa satu tahun setelah penyerahan kedaulatan melalui perundingan antara RIS dengan Kerajaan Belanda.

Benarkah alasan Belanda mempertahankan Irian Barat karena masalah kesukuan ?Ternyata bukan !

Alasan sebenarnya adalah bahwa pada saat itu Belanda sedang mengadakan eksplorasi / penelitian sumber daya alam di Irian dan berhasil menemukan fakta bahwa di Irian Barat terdapat tambang emas dan uranium terbesar di dunia (sekarang dinamakan Freeport yang merupakan perusahaan asing milik Belanda ) yang tidak akan habis di gali selama 100 tahun.

Belanda tetap mempertahankan Irian Barat sebagai jajahannya, dan memasukan wilayah Irian Barat ke dalam Konstitusi nya pada tanggal 19 Pebruari 1952. Dengan demikian Belanda sendiri telah melanggar isi Round Table Conference yang telah disepakati dengan RIS.

2. Perjuangan diplomasi;pendekatan diplomasi

a. Perundingan Bilateral Indonesia Belanda

Pada tanggal 24 Maret 1950 diselenggarakan Konferensi Tingkat Menteri Uni Belanda - Indonesia. Konferensi memutuskan untuk membentuk suatu komisi yang anggotanya wakil-wakil Indonesia dan Belanda untuk menyelidiki masalah Irian Barat. Hasil kerja Komisi ini harus dilaporkan dalam Konferensi Tingkat Menteri II di Den Haag pada bulan Desember 1950. Ternyata pembicaraan dalam tingkat ini tidak menghasilkan penyelesaian masalah Irian Barat.



Pertemuan Bilateral Indonesia Belanda berturut-turut diadakan pada tahun 1952 dan 1954, namun hasilnya tetap sama, yaitu Belanda enggan mengembalikan Irian Barat kepada Indonesia sesuai hasil KMB.

b. Melalui Forum PBB

Setelah perundingan bilateral yang dilaksanakan pada tahun 1950, 1952 dan 1954 mengalami kegagalan, Indonesia berupaya mengajukan masalah Irian Barat dalam forum PBB. Sidang Umum PBB yang pertama kali membahas masalah Irian Barat dilaksanakan tanggal 10 Desember 1954. Sidang ini gagal untuk mendapatkan 2/3 suara dukungan yang diperlukan untuk mendesak Belanda.

Indonesia secara bertrurut turut mengajukan lagi sengketa Irian Barat dalam Majelis Umum X tahun 1955, Majelis Umum XI tahun 1956, dan Majelis Umum XII tahun 1957. Tetapi hasil pemungutan suara yang diperoleh tidak dapat memperoleh 2/3 suara yang diperlukan.

c. Dukungan Negara Negara Asia Afrika (KAA)

Gagal melalui cara bilateral, Indonesia juga menempuh jalur diplomasi secara regional dengan mencari dukungan dari negara-negara Asia Afrika. Konferensi Asia Afrika yang diadakan di Indonesia tahun 1955 dan dihadiri oleh 29 negara-negara di kawasan Asia Afrika, secara bulat mendukung upaya bangsa Indonesia untuk memperoleh kembali Irian sebagai wilayah yang sah dari RI.

Namun suara bangsa-bangsa Asia Afrika di dalam forum PBB tetap tidak dapat menarik dukungan internasional dalam sidang Majelis Umum PBB.

3. Perjuangan dengan konfrontasi politik dan ekonomi

Kegagalan pemerintah Indonesia untuk mengembalikan Irian Barat baik secara bilateral, Forum PBB dan dukungan Asia Afrika, membuat pemerintah RI menempuh jalan lain pengembalian Irian Barat, yaitu jalur konfrontasi. Berikut ini adalah upaya Indonesia mengembalikan Irian melalui jalur konfrontasi, yang dilakukan secara bertahap.

a. Pembatalan Uni Indonesia Belanda

Setelah menempuh jalur diplomasi sejak tahun 1950, 1952 dan 1954, serta melalui forum PBB tahun 1954 gagal untuk mengembalikan Irian Barat kedalam pangkuan RI, pemerintah RI mulai bertindak tegas dengan tidak lagi mengakui Uni Belanda Indonesia yang dibentuk berdasarkan KMB. Ini berarti bahwa pembatalan Uni Belanda Indonesia secara sepihak oleh pemerintah RI berarti juga merupakan bentuk pembatalan terhadap isi KMB. Tindakan pemerintah RI ini juga didukung oleh kalangan masyarakat luas, partai-partai dan berbagai organisasi politik, yang menganggap bahwa kemerdekaan RI belum lengkap / sempurna selama Indonesia masih menjadi anggota UNI yang dikepalai oleh Ratu Belanda.

Pada tanggal 3 Mei 1956 Indonesia membatalkan hubungan Indonesia Belanda, berdasarkan perjanjian KMB. Pembatalan ini dilakukan dengan Undang Undang No. 13 tahun 1956 yang menyatakan, bahwa untuk selanjutnya hubungan Indonesia Belanda adalah hubungan yang lazim antara negara yang berdaulat penuh, berdasarkan hukum internasional. Sementara itu hubungan antara kedua negara semakin memburuk, karena :

1. terlibatnya orang-orang Belanda dalam berbagai pergolakan di Indonesia (APRA, Andi Azis, RMS)

2. Belanda tetap tidak mau menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia.

b. Pembentukan Pemerintahan Sementara Propinsi Irian Barat di Soasiu (Maluku Utara)

Sesuai dengan Program Kerja Kabinet, Ali Sastroamidjojo membentuk Propinsi Irian Barat dengan ibu kota Soasiu (Tidore). Pembentukan propinsi itu diresmikan tanggal 17 Agustus 1956. Propinsi ini meliputi wilayah Irian Barat yang masih diduduki Belanda dan daerah Tidore, Oba, Weda, Patrani, serta Wasile di Maluku Utara.



c. Pemogokan Total Buruh Indonesia

Sepuluh tahun menempuh jalan damai, tidak menghasilkan apapun. Karena itu, pada tanggal 18 Nopember 1957 dilancarkan aksi-aksi pembebasan Irian Barat di seluruh tanah air. Dalam rapat umum yang diadakan hari itu, segera diikuti pemogokan total oleh buruh-buruh yang bekerja pada perusahaan-perusahaan milik Belanda pada tanggal 2 Desember 1957. Pada hari itu juga pemerintah RI mengeluarkan larangan bagi beredarnya semua terbitan dan film yang menggunakan bahasa Belanda. Kemudian KLM dilarang mendarat dan terbang di seluruh wilayah Indonesia.

d. Nasionalisasi Perusahaan Milik Belanda

Pada tanggal 3 Desember 1957 semua kegiatan perwakilan konsuler Belanda di Indonesia diminta untuk dihentikan. Kemudian terjadi serentetan aksi pengambil alihan modal perusahaan-perusahaan milik Belanda di Indonesia, yang semula dilakukan secara spontan oleh rakyat dan buruh yang bekerja pada perusahaan-perusahaan Belanda ini. Namun kemudian ditampung dan dilakukan secara teratur oleh pemerintah. Pengambilalihan modal perusahaan perusahaan milik Belanda tersebut oleh pemerintah kemudian diatur dengan Peraturan Pemerintah No. 23 tahun 1958.

e. Pemutusan Hubungan Diplomatik

Hubungan diplomatik Indonesia – Belanda bertambah tegang dan mencapai puncaknya ketika pemerintah Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda. Dalam pidato Presiden yang berjudul ”Jalan Revolusi Kita Bagaikan Malaikat Turun Dari Langit (Jarek)” pada peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke 15, tanggal 17 Agustus 1960, presiden memaklumkan pemutusan hubungan diplomatik dengan Belanda.

Tindakan ini merupakan reaksi atas sikap Belanda yang dianggap tidak menghendaki penyelesaian secara damai pengembalian Irian Barat kepada Indonesia. Bahkan, menjelang bulan Agustus 1960, Belanda mengirimkan kapal induk ” Karel Doorman ke Irian melalui Jepang. Disamping meningkatkan armada lautnya, Belanda juga memperkuat armada udaranya dan angkutan darat nya di Irian Barat.

Karena itulah pemerintah RI mulai menyusun kekuatan bersenjatanya untuk mempersiapkan segala sesuatu kemungkinan. Konfrontasi militer pun dimulai.

4. Tri Komando Rakyat

a. Tri Komando Rakyat

Dalam pidatonya ”Membangun Dunia Kembali” di forum PBB tanggal 30 September 1960, Presiden Soekarno berujar, ”......Kami telah mengadakan perundingan-perundingan bilateral......harapan lenyap, kesadaran hilang, bahkan toleransi pu n mencapai batasnya. Semuanya itu telah habis dan Belanda tidak memberikan alternatif lainnya, kecuali memperkeras sikap kami.”

Tindakan konfrontasi politik dan ekonomi yang dilancarkan Indonesia ternyata belum mampu memaksa Belanda untuk menyerahkan Irian Barat. Pada bulan April 1961 Belanda membentuk Dewan Papua, bahkan dalam Sidang umum PBB September 1961, Belanda mengumumkan berdirinya Negara Papua. Untuk mempertegas keberadaan Negara Papua, Belanda mendatangkan kapal induk ”Karel Doorman” ke Irian Barat.

Terdesak oleh persiapan perang Indonesia itu, Belanda dalam sidang Majelis Umum PBB XVI tahun 1961 mengajukan usulan dekolonisasi di Irian Barat, yang dikenal dengan ”Rencana Luns”.

menanggapi rencana licik Belanda tersebut, pada tanggal 19 Desember 1961 bertempat di Yogyakarta, Presiden Soekarno mengumumkan TRIKORA dalam rapat raksasa di alun alun utara Yogyakarta, yang isinya :

1. Gagalkan berdirinya negara Boneka Papua bentukan Belanda

2. Kibarkan sang Merah Putih di irtian Jaya tanah air Indonesia

3. Bersiap melaksanakan mobilisasi umum

b. Pembentukan Komando Mandala Pembebasan Irian Barat

Sebagai langkah pertama pelaksanaan Trikora adalah pembentukan suatu komando operasi, yang diberi nama ”Komando Mandala Pembebasan Irian Barat”. Sebagai panglima komando adalah Brigjend. Soeharto yang kermudian pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor Jenderal.

Panglima Komando : Mayjend. Soeharto

Wakil Panglima I : Kolonel Laut Subono

Wakil Panglima II : Kolonel Udara Leo Wattimena

Kepala Staf Gabungan : Kolonel Ahmad Tahir

Komando Mandala yang bermarkas di Makasar ini mempunyai dua tujuan :

1. merencanakan, menyiapkan dan melaksanakan operasi militer untuk mengembalikan Irian barat ke dalam kekuasaan Republik Indonesia

2. mengembangkan situasi militer di wilayah Irian barat sesuai dengan perkembangan perjuangan di bidang diplomasi supaya dalam waktu singkat diciptakan daerah daerah bebas de facto atau unsur pemerintah RI di wilayah Irian Barat

Dalam upaya melaksanakan tujuan tersebut, Komando Mandala membuat strategi dengan membagi operasi pembebasan Irian Barat menjadi tiga fase, yaitu :

1. Fase infiltrasi

Dimulai pada awal Januari tahun 1962 sampai dengan akhir tahun 1962, dengan memasukkan 10 kompi ke sekitar sasaaran tertentu untuk menciptakan daerah bebas de facto.

2. Fase Eksploitasi

Dimulai pada awal Januari 1964 sampai dengan akhir tahun 1963, dengan mengadakan serangan terbuka terhadap induk militer lawan, menduduki semua pos pertahanan musuh yang penting.

3. Fase Konsolidasi

Dilaksanakan pada tanggal 1 Januari 1964, dengan menegakkan kekuasaan RI secara mutlak di seluruh Irian Barat.



Sebelum Komando mandala bekerja aktif, unsur militer yang tergabung dalam Motor Boat Torpedo (MTB) telah melakukan penyusupan ke Irian Barat. Namun kedatangan pasukan ini diketahui oleh Belanda, sehingga pecah pertempuran di Laut Arafura. Dalam pertempuran yang sangat dahsyat ini, MTB Macan Tutul berhasil ditenggelamkan oleh Belanda dan mengakibatkan gugurnya komandan MTB Macan Tutul Yoshafat Sudarso (Pahlawan Trikora)

Sementara itu Presiden Amerika Serikat yang baru saja terpilih John Fitzgerald Kennedy merasa risau dengan perkembangan yang terjadi di Irian Barat. Dukungan Uni Soviet ( PM. Nikita Kruschev ) kepada perjuangan RI untuk mengembalikan Irian Barat dari tangan Belanda, menimbulkan terjadinya ketegangan politik dunia, terutama pada pihak Sekutu (NATO) pimpinan Amerika Serikat yang semula sangat mendukung Belanda sebagai anggota sekutunya. Apabila Uni Soviet telah terlibat dan Indonesia terpengaruh kelompok ini, maka akan sangat membahayakan posisi Amerika Serikat di Asia dan dikhawatirkan akan menimbulkan masalah Pasifik Barat Daya. Apabila pecah perang Indonesia dengan Belanda maka Amerika akan berada dalam posisi yang sulit. Amerika Serikat sebagai sekutu Belanda akan di cap sebagai negara pendukung penjajah dan Indonesia akan jatuh dalam pengaruh Uni Soviet.

Untuk itu, dengan meminjam tangan Sekjend PBB U Than, Kennedy mengirimkan diplomatnya yang bernama Elsworth Bunker untuk mengadakan pendekatan kepada Indonesia – Belanda.

Sesuai dengan tugas dari Sekjend PBB ( U Than ), Elsworth Bunker pun mengadakan penelitian masalah ini, dan mengajukan usulan yang dikenal dengan ”Proposal Bunker”. Adapun isi Proposal Bunker tersebut adalah sebagai berikut :

”Belanda harus menyerahkan kedaulatan atas Irian barat kepada Indonesia melalui PBB dalam jangka waktu paling lambat dua tahun”

Usulan ini menimbulkan reaksi :

1. Dari Indonesia : meminta supaya waktu penyerahan diperpendek

2. Dari Belanda : setuju melalui PBB, tetapi tetap diserahkan kepada Negara Papua Merdeka

c. Operasi Jaya Wijaya

Pelaksanaan Operasi

1. Maret - Agustus 1962 dilancarkan operasi pendaratan melalui laut dan udara

2. Rencana serangan terbuka untuk merebut Irian Barat sebagai suatu operasi penentuan, yang diberi nama Operasi Jaya wijaya”. Pelaksanaan operasi adalah sebagai berikut :

a. Angkatan Laut Mandala dipimpin oleh Kolonel Soedomo membentuk tugas amphibi 17, terdiri dari 7 gugus tugas

b. Angkatan Udara Mandala membentuk enam kesatuan tempur baru.

Sementara itu sebelum operasi Jayawijaya dilaksanakan, diadakan perundingan di Markas Besar PBB pada tanggal 15 Agustus 1962, yang menghasilkan suatu resolusi penghentian tembak menembak pada tanggal 18 Agustus 1962.

5. Persetujuan New York [ New York Agreement ]

Setelah operasi-operasi infiltrasi mulai mengepung beberapa kota penting di Irian Barat, sadarlah Belanda dan sekutu-sekutunya, bahwa Indonesia tidak main-main untuk merebut kembali Irian Barat. Atas desakan Amerika Serikat, Belanda bersedia menyerahkan irian Barat kepada Indonesia melalui Persetujuan New York / New York Agreement.

Isi Pokok persetujuan :

1. Paling lambat 1 Oktober 1962 pemerintahan sementara PBB (UNTEA) akan menerima serah terima pemerintahan dari tangan Belanda dan sejak saat itu bendera merah putih diperbolehkan berkibar di Irian Barat..

2. Pada tanggal 31 Desember 11962 bendera merah putih berkibar disamping bendera PBB.

3. Pemulangan anggota anggota sipil dan militer Belanda sudah harus selesai tanggal 1 Mei 1963

4. Selambat lambatnya tanggal 1 Mei 1963 pemerintah RI secara resmi menerima penyerahan pemerintahan Irian Barat dari tangan PBB

5. Indonesia harus menerima kewajiban untuk mengadakan Penentuan Pendapat rakyat di Irian Barat, paling lambat sebelum akhir tahun 1969.

Sesuai dengan perjanjian New York, pada tanggal 1 Mei 1963 berlangsung upacara serah terima Irian Barat dari UNTEA kepada pemerintah RI. Upacara berlangsung di Hollandia (Jayapura). Dalam peristiwa itu bendera PBB diturunkan dan berkibarlah merah putih yang menandai resminya Irian Barat menjadi propinsi ke 26. Nama Irian Barat diubah menjadi Irian Jaya ( sekarang Papua )

6. Arti penting Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera)

Sebagai salah satu kewajiban pemerintah Republik Indonesia menurut persetujuan New York, adalah pemerintah RI harus mengadakan penentuan pendapat rakyat di Irian Barat paling lambat akhir tahun 1969. pepera ini untuk menentukan apakah rakyat Irian Barat memilih, ikut RI atau merdeka sendiri. Penentuan pendapat Rakyat akhirnya dilaksanakan pada tanggal 24 Maret sampai dengan 4 Agustus 1969.Mereka diberi dua opsi, yaitu : bergabung dengan RI atau merdeka sendiri.

Setelah Pepera dilaksanakan, Dewan Musyawarah Pepera mengumumkan bahwa rakyat Irian dengan suara bulat memutuskan Irian Jaya tetap merupakan bagian dari Republik Indoenesia. Hasil ini dibawa Duta Besar Ortiz Sanz untuk dilaporkan dalam sidang umum PBB ke 24 bulan Nopember 1969. Sejak saat itu secara de yure Irian Jaya sah menjadi milik RI.


Dengan menganalisa fakta-fakta pembebasan Irian Barat sampai kemudian dilaksanakan Pepera, dapat diambil kesimpulan bahwa Pepera mempunyai arti yang sangat penting bagi pemerintah Indonesia, yaitu :

1. bukti bahwa pemerintah Indonesia dengan merebut Irian Barat melalui konfrontasi bukan merupakan sebuah tindakan aneksasi / penjajahan kepada bangsa lain, karena secara sah dipandang dari segi de facto dan de jure Irian Barat merupakan bagian dari wilayah RI

2. upaya keras pemerintah Ri merebut kembali Irian Barat bukan merupakan tindakan sepihak, tetapi juga mendapat dukungan dari masyarakat Irian Barat. Terbukti hasil Pepera menyatakan rakyat Irian ingin bergabung dengan Republik Indonesia.